Gandeng Puskesmas Nangkaan, MAN Bondowoso Bekali Siswa Keterampilan Pertolongan Pertama Luka Psikologis

MAN Bondowoso – Kesehatan mental remaja kian menjadi perhatian serius di tengah dinamika sosial saat ini. Merespons tantangan tersebut, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bondowoso bekerja sama dengan Puskesmas Nangkaan menggelar Sosialisasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) pada Selasa (19/05/2026).

Bertempat di Meeting Room Lantai 2 MAN Bondowoso, kegiatan edukatif ini diikuti oleh 50 siswa-siswi pilihan dari kelas X dan XI, termasuk perwakilan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Nurus Sofiah. Program P3LP sendiri merupakan bagian dari agenda nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) yang diinisiasi akibat meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada kelompok usia remaja secara nasional.

Kepala MAN Bondowoso, Santoso dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang mendalam atas langkah preventif yang diinisiasi oleh Kemenkes RI dan Puskesmas Nangkaan. Ia menegaskan bahwa pembekalan ini sangat krusial dan relevan dengan kondisi psikologis generasi muda hari ini.

Di hadapan para peserta, Santoso juga menyelipkan pesan spiritual yang mendalam sebagai fondasi ketahanan mental. Beliau mengingatkan para siswa agar senantiasa mendekatkan diri dan mengingat Allah SWT dalam menghadapi setiap persoalan hidup.

“Jiwa yang tenang adalah hati yang selalu berzikir kepada Allah. Selain menjadi jalan keluar atas setiap masalah, berzikir juga mendatangkan pahala,” tutur Beliau.

Untuk memperkuat pesannya, Beliau mengutip potongan ayat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d 28

أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram

Beliau berharap, melalui pelatihan ini, para kader yang terbentuk mampu menjadi penolong pertama, membawa ketenangan, serta menjadi sandaran yang positif bagi teman sebaya yang sedang dirundung masalah kehidupan.

Harapan senada juga disampaikan oleh perwakilan tim pemateri dari Puskesmas Nangkaan. Mereka menekankan bahwa peserta P3LP dipersiapkan untuk menjadi garda depan atau pendengar awal (first aider) di lingkungan sekolah.

“Sebelum masalah meluas dan dirujuk ke tenaga profesional seperti guru BK, psikolog, atau tenaga kesehatan, para siswa inilah yang diharapkan mampu memberikan dukungan awal yang aman, nyaman, dan empatik,” jelas salah satu perwakilan Puskesmas Nangkaan.

Materi inti disampaikan secara komprehensif oleh tenaga kesehatan Puskesmas Nangkaan yang juga bertindak sebagai programmer jiwa. Dalam paparannya, ia menggarisbawahi bahwa kesehatan jiwa memiliki porsi urgensi yang sama besar dengan kesehatan fisik. Bagi remaja, gangguan kesehatan jiwa kerap dipicu oleh berbagai faktor kompleks, mulai dari konflik dengan orang tua atau teman, dampak perundungan (bullying), tekanan akademik, hingga pola hidup yang tidak sehat seperti kurang tidur dan nutrisi yang buruk.

Untuk memitigasi hal tersebut, peserta dibekali dengan prinsip dasar P3LP yang merujuk pada empat pilar utama: Persiapan, Memperhatikan (Look), Mendengarkan (Listen), dan Menghubungkan (Link). Peserta diajarkan bagaimana cara mendengarkan secara aktif menggunakan seluruh aspek diri—mulai dari menjaga kontak mata, memberikan respons verbal yang menenangkan, hingga menunjukkan sikap empati tanpa menghakimi.

Tidak hanya belajar cara mendengarkan, para siswa juga diajarkan untuk mengenali tanda-tanda merah (red flags) atau kondisi darurat yang membutuhkan penanganan ahli. Beberapa di antaranya meliputi perilaku melukai diri sendiri (self-harm), kecenderungan bunuh diri, histeria, kecemasan berlebih, hingga perubahan perilaku ekstrem akibat zat adiktif.

Bobot pelatihan semakin terasa berkat adanya sesi role play (simulasi) dengan skenario kasus perundungan di sekolah. Dalam sesi interaktif ini, para siswa dibagi dalam peran sebagai helpee (korban), first aider (penolong), dan observer (pengamat). Mereka mempraktikkan langsung teori yang didapat, lalu mengevaluasinya bersama fasilitator.

Antusiasme peserta terus bertahan hingga penghujung acara. Meski durasi kegiatan telah usai, sesi tanya jawab tetap berjalan dinamis karena banyaknya siswa yang ingin menggali materi lebih dalam.

Melalui sosialisasi ini, MAN Bondowoso optimis dapat melahirkan kader-kader P3LP yang peka, responsif, dan siap menciptakan lingkungan madrasah yang sehat secara mental, aman secara sosial, dan kuat secara spiritual. (as)

Bagikan :

Artikel Lainnya

Gandeng Puskesmas Nangkaan, MAN Bondowoso Bekal...
MAN Bondowoso – Kesehatan mental remaja...
Menggugah Semangat Harkitnas ke-118, MAN Bondow...
BONDOWOSO – Nuansa khidmat menyelimuti halaman...
Estafet Kepemimpinan Dewan Ambalan MAN Bondowos...
BONDOWOSO, – Suasana khidmat menyelimuti Aula...
Lebih dari Sekadar Pertemuan: Anjangsana MAN Bo...
BONDOWOSO – Keluarga besar Madrasah Aliyah...
Menebar Benih Kasih: Ketika ‘Kurikulum Berbasis...
BONDOWOSO – Pagi yang cerah di...
Sabet Dua Juara Sekaligus, DWP MAN Bondowoso Pu...
BONDOWOSO – Semangat emansipasi terpancar nyata...