BONDOWOSO (Humas) – Semangat literasi berpadu dengan ketakziman terhadap sejarah madrasah menyelimuti Aula Utama MAN Bondowoso pada Selasa (13/10/2026). Ratusan siswa madrasah memadati ruangan guna mengikuti agenda bedah buku bertajuk Desainer Madrasah Badean: Jejak Pemikiran KH. Imam Barmawi Burhan. Kegiatan yang diinisiasi oleh Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MAN Bondowoso ini menghadirkan langsung sang penulis, Dr. Suheri, S.Pd.I., bersama akademisi Dr. KH. Madzkur Damiri, M.Si.
Acara diawali dengan laporan Ketua Panitia Pelaksana, Iqbal Indra Yudhistira, siswa kelas XI-D. Iqbal menyampaikan bahwa pemilihan buku terbitan Imtiyaz tahun 2015 ini dilandasi oleh pentingnya generasi muda mengenal rekam jejak kemajuan madrasahnya. Buku tersebut mendokumentasikan secara komprehensif rancangan besar pendidikan Islam serta transformasi monumental MAN Bondowoso di bawah masa kepemimpinan Drs. KH. Imam Barmawi Burhan sepanjang periode 2001 hingga 2013.
Kepala MAN Bondowoso, Santoso, dalam sambutan pembukaannya mengapresiasi tinggi terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa karya Dr. Suheri merupakan sarana refleksi penting bagi generasi penerus sekaligus instrumen evaluasi institusi.
“Karya ini menjadi ruang bertukar pikiran sekaligus muhasabah bagi kita semua untuk menelusuri jejak kepemimpinan KH. Imam Barmawi Burhan. Kita perlu mengintrospeksi diri, berada di posisi mana kita hari ini jika dibandingkan dengan pencapaian madrasah pada masa beliau. Bedah buku ini hendaknya disimak sebaik-baiknya agar menjadi rujukan bersikap serta pijakan dalam merumuskan kebijakan maupun program madrasah ke depan,” tutur Santoso.
Memasuki sesi inti, diskusi panel berlangsung dinamis dan interaktif. Kedua narasumber bergantian membedah gagasan, latar sejarah, serta pesan inspiratif dari sosok kepemimpinan KH. Imam Barmawi Burhan atau yang akrab disapa Abah.
Salah satu esensi pemikiran yang digarisbawahi adalah kedudukan pendidik dan pemimpin sebagai pelayan bagi para siswa yang dititipkan Allah di MAN Bondowoso. Tugas utama pendidik adalah melayani peserta didik sepenuh hati demi mengantarkan mereka menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, serta tangguh secara mental.
Narasumber turut memaparkan trilogi karakter warisan Abah, yakni mantap akidah, luas wawasan, dan luwes pergaulan. Ketiga prinsip ini dipandang sebagai bekal utama generasi muda dalam merespons arus perubahan zaman yang serba tidak menentu. Akidah yang kokoh menjaga integritas moral agar tidak mudah terombang-ambing, wawasan yang luas membekali siswa dalam ketatnya persaingan global, sementara keluwesan bergaul memastikan setiap langkah mereka membawa dampak maslahat bagi sesama.
Diskusi berkembang kian mendalam saat narasumber mengaitkan nilai-nilai historis tersebut dengan konsep Madrasah Digital Modern. Transformasi digital dimaknai bukan sebatas alih wahana dokumen cetak menjadi berkas digital atau papan tulis menjadi proyektor, melainkan perancangan ulang kurikulum, tata kelola, dan kultur pembelajaran secara terpadu. Prinsip madrasah berkultur pesantren, berkarakter, dan bermental kompetitor yang dibangun Abah diposisikan sebagai fondasi, sedangkan ekosistem digital berfungsi sebagai instrumen pemercepat tercapainya visi tersebut.
Sesi bedah buku ditutup dengan peneladanan nilai ketulusan KH. Imam Barmawi Burhan. Meski telah menorehkan karya besar bagi konstruksi MAN Bondowoso, Abah dikenal senantiasa rendah hati dan tidak pernah mengklaim keberhasilan madrasah sebagai hasil kerja pribadinya semata, melainkan memandangnya sebagai wujud barakah dari para guru serta ikhtiar bersama orang-orang setelah beliau.
Antusiasme peserta terlihat nyata hingga pengujung acara melalui beragam pertanyaan kritis yang diajukan para siswa. Agenda ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki yang kuat serta menyalakan etos juang peserta didik dalam merawat marwah dan prestasi MAN Bondowoso.(as)


