BONDOWOSO, manbondowoso.sch.id – Suasana khidmat menyelimuti lapangan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bondowoso pada Senin pagi (1/6). Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta ratusan siswa-siswi berdiri tegap mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila.
Upacara yang berlangsung tertib ini dipimpin langsung oleh Kepala MAN Bondowoso, Santoso, S.Ag., M.Pd., sebagai Pembina Upacara. Langkah tegap derap kaki pasukan pengibar bendera (Paskibra) putra madrasah menjadi pembuka yang menambah sakralnya momentum peringatan sejarah bangsa tersebut.
Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni bukan sekadar rutinitas seremonial. Momentum ini menjadi ruang refleksi untuk mengenang kembali jasa besar para pendiri bangsa yang berhasil merumuskan fondasi kokoh bagi keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam amanatnya, Kepala MAN Bondowoso, Santoso, menekankan bahwa Pancasila adalah kompas moral dan acuan hidup bernegara yang harus dijaga dari generasi ke generasi. Ia berpesan agar keluarga besar MAN Bondowoso, khususnya para siswa, tidak goyah oleh ideologi lain yang dapat mengancam keutuhan bangsa.
“Momentum 1 Juni 2026 ini bukan sekadar peringatan atau upacara biasa. Kita sedang mengenang sejarah fondasi yang dibangun oleh para pendahulu kita. Jangan sampai kita goyah dan mengancam bubarnya bangsa Indonesia. Tetap jadikan Pancasila sebagai pedoman dasar negara,” tegas Santoso di hadapan peserta upacara.
Lebih lanjut, Santoso meluruskan pandangan keliru yang kerap membenturkan nilai nasionalisme dengan keyakinan agama. Sebagai lembaga pendidikan Islam, beliau menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sepenuhnya selaras dengan syariat Islam.
“Sebagai seorang muslim, kita mengakui bahwa tidak ada satu pun butir Pancasila yang bertentangan dengan konsep Islam. Pancasila mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa, dan semua agama menerima kalimat tersebut. Seandainya ada yang merasa agama bertentangan dengan Pancasila, bukan Pancasila yang salah, melainkan mereka yang salah menerjemahkan atau salah memahami Pancasila,” lanjutnya urai.
Upacara hari ini terasa kian istimewa dan emosional karena bertepatan dengan Hari Lahir MAN Bondowoso yang ke-46. Meski tidak dirayakan dengan pesta besar-besaran, esensi kesyukuran tetap membumbung tinggi melalui untaian doa bersama.
Mengutip filosofi Islam, Santoso menjelaskan bahwa usia di atas 40 tahun merupakan simbol kematangan hidup. Di usia yang ke-46 ini, MAN Bondowoso telah membuktikan eksistensinya lewat deretan prestasi gemilang, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
“Menurut konsep Islam, usia di atas 40 adalah usia kematangan. MAN Bondowoso di usia 46 tahun ini telah matang dengan berbagai capaian prestasi. Untuk itu, mari kita berkomitmen hari ini untuk terus berkarya, bekerja, dan melakukan tindakan-tindakan nyata demi kemajuan madrasah kita tercinta,” ajak Santoso memotivasi seluruh warga madrasah.
Di akhir amanatnya, Kepala Madrasah menyelipkan harapan besar bagi masa depan lembaga yang dipimpinnya. Beliau berharap, di usia yang makin matang ini, MAN Bondowoso dapat terus bertransformasi menjadi madrasah yang unggul dan kompetitif.
“Harapan kita bersama, semoga Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan MAN Bondowoso sebagai lembaga pendidikan yang terus berkembang, barokah, membawa manfaat, serta maslahat di dunia maupun di akhirat. Semoga madrasah ini terus melahirkan generasi emas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam iman dan nasionalisme,” pungkasnya.
Upacara peringatan ganda yang penuh makna ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama secara khidmat, memohon keselamatan bagi bangsa Indonesia dan keberkahan untuk kejayaan MAN Bondowoso ke depan. (as)



