Bondowoso – MAN Bondowoso menggelar uji publik calon Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) sebagai bagian dari rangkaian pemilihan pemimpin organisasi siswa. Bertempat di ruang kepala madrasah, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para kandidat untuk menyampaikan visi dan misi sekaligus memperkenalkan gagasan mereka dalam membangun OSIM yang aktif, kreatif, dan mampu menjadi wadah aspirasi seluruh siswa.
Empat kandidat putri yang mengikuti uji publik tersebut adalah Dinar Cahya Fairuz Abdillah dari kelas X-I, Hasanatus Chindyah dari kelas X-K, Wardah Fajrina dari kelas X-I, serta Queenzha Hilala Alfathira Ramadhaniez dari kelas XI-M. Masing-masing kandidat hadir dengan visi dan misi yang mencerminkan pandangan mereka tentang kepemimpinan, pengembangan potensi siswa, serta peran OSIM dalam kehidupan madrasah.

Dinar Cahya Fairuz Abdillah mengusung visi menjadikan OSIM MAN Bondowoso yang “ASIK”, yaitu Aktif, Solid, Inspiratif, dan Kreatif. Ia ingin menjadikan OSIM sebagai wadah untuk menampung dan menyalurkan aspirasi, kritik, saran, serta ide dari seluruh warga madrasah. Selain itu, Dinar menekankan pentingnya solidaritas antaranggota, pengembangan kreativitas siswa, dan keteladanan pengurus OSIM.
Sementara itu, Hasanatus Chindyah membawa visi mewujudkan OSIM yang responsif, terbuka, dan inklusif sebagai rumah bagi seluruh siswa untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat secara berkeadilan. Ia menekankan tata kelola organisasi yang profesional dan disiplin dengan prinsip SMART, yakni sigap, menarik, antusias, rajin, dan teliti. Hasanatus juga ingin membangun hubungan yang baik antaranggota serta menyediakan wadah aspirasi yang mudah diakses oleh seluruh siswa.

Kandidat berikutnya, Wardah Fajrina, mengusung visi menjadikan OSIM sebagai wadah kreativitas tanpa batas yang diwujudkan melalui aksi dinamis dan berlandaskan nilai keislaman. Melalui visinya, Wardah ingin menghadirkan berbagai kegiatan kreatif yang mampu mengasah potensi dan bakat siswa, mendorong partisipasi dalam kegiatan positif dan kolaboratif, serta mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam setiap kegiatan organisasi.
Adapun Queenzha Hilala Alfathira Ramadhaniez membawa gagasan bahwa OSIM tidak hanya bertugas menyelenggarakan acara, tetapi juga menjadi sarana untuk menciptakan perubahan. Ia menekankan pentingnya membangun lingkungan madrasah yang setara, saling menghargai, dan bebas dari senioritas yang merugikan. Selain memperjuangkan aspirasi seluruh siswa, Queenzha ingin membangun OSIM yang kompak, transparan, dan dapat dipercaya.

Dalam kegiatan tersebut, para kandidat mengikuti uji publik bersama para penguji, yaitu Ustazah Hartatik, Ustazah Retno, Ustaz Hasyim Asqori, serta Kepala MAN Bondowoso, Santoso, S.Ag., M.Pd. Keterlibatan para guru memberikan ruang bagi para kandidat untuk menyampaikan gagasan secara terbuka sebagai bagian dari proses pengenalan visi, misi, dan komitmen kepemimpinan mereka.
Melalui uji publik ini, siswa tidak hanya belajar tentang proses pemilihan pemimpin, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menyampaikan gagasan, membangun komunikasi, dan memahami tanggung jawab yang melekat pada sebuah kepemimpinan. Beragam visi yang disampaikan para kandidat menunjukkan bahwa OSIM dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas, memperjuangkan aspirasi, membangun solidaritas, dan menghadirkan perubahan positif di lingkungan madrasah.
MAN Bondowoso berharap proses pemilihan Ketua OSIM ini dapat menjadi sarana pembelajaran demokrasi sekaligus pembentukan karakter kepemimpinan bagi peserta didik. Siapa pun yang nantinya mendapat kepercayaan untuk memimpin OSIM diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, menjunjung nilai-nilai keislaman, dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan madrasah yang aktif, harmonis, serta inspiratif.
(Humas MAN Bondowoso)
