BONDOWOSO – Pagi yang cerah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bondowoso, Senin (11/05/2026), terasa berbeda dari biasanya. Di bawah kibaran bendera merah putih, sebuah pesan mendalam tentang hakikat pendidikan disampaikan dengan penuh ketulusan. Bukan sekadar rutinitas, upacara bendera kali ini menjadi momentum refleksi tentang bagaimana “Cinta” menjadi fondasi utama dalam proses belajar mengajar.
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Ustadzah Naely Syafiratul Ummah menyampaikan amanat yang menggugah sanubari seluruh peserta upacara, mulai dari siswa-siswi kelas X hingga XI, serta jajaran guru dan karyawan. Mengangkat gagasan segar dari Kementerian Agama mengenai Kurikulum Berbasis Cinta, beliau menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan transfer kasih sayang.
Dalam orasinya, Ustadzah Naely menggunakan analogi yang menyentuh logika para remaja. Beliau menyebutkan bahwa hubungan antara guru dan murid ibarat sebuah jalinan kasih yang harus berjalan dua arah.
“Cinta tidak akan nikmat jika hanya sepihak. Guru-guru di sini telah menumpahkan cintanya dengan menyiapkan pembelajaran terbaik. Lantas, bagaimana cara siswa menyambut cinta itu? Jawabannya sederhana: dengan semangat belajar dan fokus pada pelajaran,” ujar beliau dengan nada teduh.
Beliau menambahkan bahwa kesabaran guru dalam membimbing adalah manifestasi nyata dari rasa cinta. Oleh karena itu, kehadiran siswa yang antusias adalah balasan hangat yang dinanti oleh para pendidik.
Lebih lanjut, Ustadzah Naely menegaskan bahwa visi MAN Bondowoso bukan sekadar mencetak “robot” yang pintar secara intelektual namun kering secara spiritual. Target utamanya adalah melahirkan generasi yang Cerdas sekaligus Berakhlak Mulia.
“Sekolah yang penuh cinta akan melahirkan manusia yang manusiawi. Cinta siswa kepada guru dibuktikan dengan tanggung jawab menyelesaikan tugas, dan cinta guru kepada siswa adalah menuntaskan amanah mengajar. Dari sanalah komunikasi lahir, dan dari komunikasi itulah cinta akan tumbuh subur,” tambahnya.
Tak hanya hubungan antarmanusia, implementasi kurikulum cinta ini juga menyentuh aspek fasilitas dan spiritualitas. Siswa diajak untuk mencintai madrasah dengan cara merawat fasilitas yang ada.
Salah satu sorotan utama adalah fasilitas Mushola. Ustadzah Naely berpesan agar waktu salat berjamaah yang disediakan madrasah tidak dianggap sebagai beban, melainkan bentuk kasih sayang madrasah untuk mendekatkan siswa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
“Balaslah cinta madrasah dengan menjalankan ibadah sepenuh hati. Jadikan itu kebutuhan, bukan sekadar kewajiban, agar tumbuh cinta yang hakiki kepada Sang Pencipta,” pesannya di hadapan ratusan siswa yang menyimak dengan khidmat.
Upacara yang dikawal oleh petugas dari Kelas X-i ini berlangsung tertib dan ditutup dengan doa bersama yang sangat khusyuk.
Melalui narasi cinta ini, MAN Bondowoso berharap atmosfer pendidikan di lingkungan madrasah menjadi lebih harmonis dan manusiawi. Dengan penerapan kurikulum berbasis cinta, diharapkan tidak ada lagi jarak yang kaku antara pendidik dan peserta didik. Semoga, madrasah ini mampu menjadi rumah kedua yang nyaman, tempat di mana ilmu ditegakkan dan akhlak dimuliakan melalui ketulusan hati.(as)


