BONDOWOSO (Humas) — Sebanyak 225 pendidik Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kabupaten Bondowoso memadati Musholla Ar-Raudhah MAN Bondowoso pada Rabu (30/9) pagi. Kehadiran para guru tersebut dalam rangka mengikuti Pelatihan Terapi Sholat Bahagia Batch 27 Angkatan 228 yang diselenggarakan oleh KKG/MGMP PAI Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 06.45 WIB ini menghadirkan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag., sebagai narasumber utama. Turut hadir dan membaur langsung bersama peserta, Kepala MAN Bondowoso, Santoso.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Tim Guru Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Najib Kusnanto, M.Si., menyampaikan bahwa agenda ini berfokus pada penguatan spiritualitas dan perbaikan kualitas ibadah para pendidik.
“Pelatihan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman makna sholat sekaligus mempraktikkan sholat yang baik, khusyuk, dan membahagiakan. Terima kasih kepada tuan rumah serta KKG-MGMP PAI Jawa Timur yang terus konsisten menghadirkan kegiatan penguatan spiritual di lingkungan madrasah,” ujar Najib dalam sambutannya.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, Moh. Ali Masyhur. Ia mengapresiasi kehadiran rombongan Kanwil Kemenag Jawa Timur yang membawa energi positif bagi dunia pendidikan di Bondowoso. Secara khusus, ia menyoroti peningkatan kompetensi guru melalui program GERAMM KATA SIGURU dan menyebut pelatihan ini sarat inspirasi bagi peningkatan mutu pembelajaran keagamaan.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Kabid Penma) Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. H. Sugiyo, M.Pd. Dalam arahannya, Sugiyo menekankan identitas madrasah sebagai lembaga pendidikan berkarakter keagamaan di tengah derasnya arus kemajuan teknologi.
Menurutnya, mata pelajaran agama tidak boleh sebatas transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan harus mampu membentuk daya kritis siswa untuk membedakan antara yang hak dan batil, serta menanamkan rasa cinta terhadap ibadah sholat.
“Madrasah adalah sekolah umum yang berciri khas agama. Karena itu, pembiasaan seperti sholat berjamaah, dhuha, dan membaca Al-Qur’an harus menjadi benteng moral peserta didik. Kita khawatir anak-anak canggih teknologi, tetapi tidak bisa membaca Al-Qur’an atau beribadah dengan benar. Maka guru PAI harus menjadi teladan, bukan sekadar pengajar,” tegas Sugiyo sebelum membuka acara secara simbolis dengan pembacaan surah Al-Fatihah.
Memasuki sesi inti, Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. memaparkan konsep Terapi Sholat Bahagia secara mendalam dan aplikatif. Pada kesempatan tersebut, Prof. Ali Aziz juga membagikan buku panduan praktis bagi seluruh peserta untuk menerapkan sholat bahagia dalam kehidupan sehari-hari.
“Sholat bukan sekadar gerakan, tetapi proses penyembuhan batin. Ketika hati hadir, sholat akan menghadirkan ketenangan, kebersyukuran, dan kebahagiaan. Kita belajar bukan hanya untuk bisa sholat, tetapi untuk merasakan bahagia di dalamnya,” terang Prof. Ali Aziz.
Melalui pelatihan ini, para pendidik diharapkan memperoleh pemahaman ibadah yang lebih mendalam sehingga dapat menularkannya kepada peserta didik melalui keteladanan nyata di lingkungan madrasah. Penguatan karakter spiritual ini diharapkan terus menopang lahirnya generasi madrasah yang unggul secara intelektual, kokoh dalam akhlak, dan senantiasa berbahagia dalam menjalankan ibadah.(as)

