Dari PTA Muhammad Al-Fatih, Pramuka MAN Bondowoso Disiapkan Jadi Generasi Tangguh dan Relawan

Bondowoso – Menjadi anggota Pramuka bukan hanya tentang belajar baris-berbaris, berkemah, atau menyelesaikan tantangan di lapangan. Lebih dari itu, Pramuka menjadi ruang untuk membentuk pribadi yang disiplin, berani, peduli, dan siap hadir ketika orang lain membutuhkan. Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pembukaan Penerimaan Tamu Ambalan (PTA) Ambalan Muhammad Al-Fatih, Pramuka putra MAN Bondowoso.

Kegiatan yang dikemas dalam rangkaian Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) tersebut menjadi momentum bagi peserta didik untuk mengenal lebih dekat kehidupan Ambalan Muhammad Al-Fatih sekaligus mempersiapkan diri menjadi bagian dari keluarga besar Pramuka MAN Bondowoso.

Kepala MAN Bondowoso sekaligus Kamabigus, Santoso, S.Ag., M.Pd., dalam pembukaannya mengingatkan peserta bahwa menjadi Pramuka di tengah perkembangan zaman memiliki tantangan yang semakin beragam. Salah satunya adalah bagaimana generasi muda mampu menjaga diri di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial.

Menurutnya, teknologi digital seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Namun, peserta juga harus memahami berbagai ancaman yang dapat muncul sehingga tidak menjadi korban dari penyalahgunaan teknologi.

“Ancaman-ancaman yang berkaitan dengan teknologi digital ini harus kita hadapi. Terutama anak Pramuka, di media sosial jangan sampai kalian menjadi korban di dunia digital. Kalian harus tahu bagaimana menggunakan media sosial dengan baik, bagaimana menjaga diri, menjaga etika, dan bertanggung jawab terhadap apa yang kalian lakukan di dunia digital,” pesan Santoso.

Di balik kemampuan beradaptasi dengan dunia digital, Santoso mengingatkan bahwa karakter utama seorang Pramuka tidak boleh ditinggalkan. Disiplin dan jiwa relawan harus tetap menjadi bagian dari diri setiap anggota.

Ia mengajak peserta melihat kembali apa yang selama ini telah dilakukan oleh para senior mereka.

“Yang jangan sampai hilang adalah disiplin dan sifat relawan. Yang pertama kali harus terketuk nuraninya itu anak Pramuka. Kakak-kakak kalian selama ini hadir ketika ada pengamanan tahun baru, ketika hari raya, ketika ada bencana dan berbagai kegiatan sosial lainnya,” ungkapnya.

Bagi Santoso, kehadiran para senior tersebut bukan sekadar menjalankan tugas. Ada kepedulian yang membuat mereka bersedia hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Karena itu, ia berharap semangat tersebut dapat diteruskan oleh peserta PTA yang saat ini berdiri di hadapannya.

“Saya berharap ke depan, ketika ada kegiatan sosial, ketika ada bencana, ketika masyarakat membutuhkan tenaga relawan, yang terketuk hatinya adalah anak-anak Pramuka yang ada di depan saya saat ini. Kalianlah yang nantinya meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh kakak-kakak kalian,” lanjutnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu bekal bagi peserta untuk menjalani seluruh rangkaian PTA. Santoso meminta peserta tidak mudah mengeluh dan mengikuti setiap proses dengan sungguh-sungguh.

“Tolong ikuti kegiatan ini dengan baik, ikuti aturannya. Tidak usah cengeng, tidak usah mudah menangis seperti sebelumnya. Jalani kegiatan ini dengan baik. Kalian sedang belajar menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih bertanggung jawab,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa keberanian dan kemampuan saja belum cukup untuk menjadi seorang Pramuka. Etika dan akhlak harus tetap berada di depan.

“Kalian boleh punya kemampuan, boleh berani, boleh kuat, tetapi etika dan akhlak tetap harus dikedepankan. Jangan sampai karena merasa hebat kemudian lupa bagaimana menghormati orang lain,” tegas Santoso.

Usai pembukaan, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang telah disiapkan dalam PTA. Outbound menjadi salah satu kegiatan yang menguji kerja sama, keberanian, kekompakan, dan kemampuan peserta dalam menghadapi tantangan. Suasana kemudian semakin semarak melalui pentas seni, yang menjadi ruang bagi peserta untuk menampilkan kreativitas dan ekspresi masing-masing.

PTA Ambalan Muhammad Al-Fatih menjadi langkah awal bagi peserta didik untuk mengenal lebih jauh nilai-nilai kepramukaan sekaligus membangun karakter sebagai generasi muda MAN Bondowoso.

Dari kegiatan ini, harapannya sederhana: ketika masyarakat membutuhkan, anak Pramuka hadir. Ketika zaman berubah, anak Pramuka mampu beradaptasi. Dan di mana pun berada, anak Pramuka tetap membawa etika, akhlak, disiplin, serta kepedulian kepada sesama.

(Humas MAN Bondowoso)


Bagikan :

Artikel Lainnya

Forlasda–Ikraman MAN Bondowoso Gelar Haul Muass...
Bondowoso – Ada jasa yang tidak...
Dari PTA Muhammad Al-Fatih, Pramuka MAN Bondowo...
Bondowoso – Menjadi anggota Pramuka bukan...
Menanamkan Kepedulian Lingkungan, Agen Perubaha...
Bondowoso – Kepedulian terhadap lingkungan tidak...
41 Kelas, 41 Gagasan: Siswa MAN Bondowoso Siapk...
Bondowoso – Ada 41 kelas, ada...
Kader Kesehatan MAN Bondowoso Resmi Dilantik, S...
Bondowoso – MAN Bondowoso resmi melantik...
KAJU MANIS: Menguatkan Cinta Rasul melalui Tila...
Bondowoso – Memasuki bulan Maulid Nabi...